Membangun Desa Maju Terlupakan Marwah Gampong Aceh

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sekapur Sirih…
Dalam hal ini penulis ingin membagikan sedikit pemahaman mengenai gampong, tentunya sebagai opini pribadi. Sebelum membaca tuisan ini sampai selesai, penulis menekankan bahwa tulisan ini tidak bersifat mengkritik tapi bertujuan untuk merenungi.

Semenjak dikucurkan dana desa banyak perubahan baik terjadi di desa, diantaranya terlihat pembangunan fisik ada di desa. Yang dulunya jalan berlumpur saat hujan kini telah menjadi rabat beton sampai aspal hotmix sehingga memudahkan akses masyarakat baik menuju lahan pertanian maupun akses jalan desa itu sendiri.

Pembangunan-pembangunan dalam kurun waktu lebih kurang 10 tahun dengan adanya dana desa telah membawa perubahan baik terhadap desa. Kita harus bersyukur dengan adanya dana desa, sebab itu menjadi jalan untuk desa menjadi mandiri.

Terlepas dari itu semua, penulis ingin mengajak kita semua merenungi tentang kesalahan besar yang kita lakukan semua. Apa benar karena membangun desa kita melupakan marwah gampong?

Jika di atas sedikit ulasan tentang pembangunan fisik karena adanya dana desa maka satu hal terlupakan yang sangat fatal. Apa itu?

Di bawah ini penulis akan menguraikannya semampu penulis. Jika ada tambahan silakan memberikan masukan kepada penulis. Berikut hal-hal yang terlupakan selama membangun desa :

1. Terlaksana Pembangunan Fisik

    Terlupakan Pembangunan Mental

Semenjak terlaksananya pembangunan fisik, pembangunan mental semakin terpuruk. Coba perhatikan, kita mulai menaruh curiga kepada aparatur desa. Tidak ada lagi rasa hormat dan adanya saling menghujat.

Tidak ada lagi saling mendidik, adanya saling mengkritik. Jika mencari titik kebenaran maka tidak akan ditemukan, setiap sudut memiliki pembenarannya sendiri. Hal yang paling lumrah adalah satu sama lain mencari titik kesalahan agar ada pembenaran atau membungkam agar tidak lagi tersebar luaskan.

Tentu bingung dengan uraian di atas, terlalu bertele-tele. Penulis akan membahas dengan bahasa yang lebih cadas atau tajam melalui analogi di kehidupan sehari-hari.

Ada satu orang paling keras mengkritik aparatur desa. Kata dua orang yang berbeda :

– Si A berkata : Berisik karena belum dapat jabatan

– Si B berkata : Untuk apa dengar ocehan anak kemarin sore

Lalu satu orang tersebut mendapat jabatan sebagai aparatur desa. Kata dua orang yang berbeda :

– Si A berkata : begitu ada jabatan sudah tidak berisik lagi

– Si B berkata : tidak lagi berani mengkritik karena takut hilang jabatan

Begitulah moral ada di kita, saling menghujat di belakang. Saling menyalahkan atau menyudutkan. Adab adalah pendidikan moral yang terlupakan. Kita masuk pada analogi yang kedua, tentang keterbukaan orang tua di desa dengan pemuda. Seakan kini menjadi kubu yang membedakan derajat antara orang berwawasan dengan anak kemarin sore.

Seakan pengetahuan orang dulu selalu benar padahal ini zamannya serba teknologi dan administrasi. Anak muda dibungkam agar tidak terlibat dalam pembangunan desa, musyawarah desa seakan hal yang berat dilakukan. Entah karena ada hal yang tidak ingin diketahui khalayak ramai atau memang sengaja ditutup-tutupi. Padahal yang ditutup-tutupi itu adalah rahasia umum.
Lalu kenapa banyak orang khususnya pemuda tidak lagi mengkritik?
alasannya satu, sudah malas menyampaikan aspirasi jika pada akhirnya hanya menjadi caci maki dari tokoh-tokoh desa karena takut ada sesuatu hal yang nantinya diketahui.Dilain sisi, kata tokoh-tokoh desa berbicara harus sopan, jangan mengkritik di warung kopi, jangan bertutur kasar di belakang tapi sampaikan dalam musyawarah desa.
Pertanyaannya kapan ada musyawarah desa?Lalu saat ada kesalahan yang dilakukan pemuda, tokoh-tokoh desa lupa cara bagaimana mendidik yang benar. Malah mencaci maki di warung kopi, bertutur dengan bahasa yang agak kasar. Bukankah di atas katanya harus sopan tapi mengapa sikapnya lebih buruk dari yang muda?

Dahulu masyarakat sangat menghormati aparatur desa. Mungkin karena belum ada dana desa atau jerih. Dahulu pemuda kompak membangun desa, masyarakat dan tokoh-tokohnya saling menjaga satu sama lain.

Anak kecil pacaran dulu tidak ada, anak umur sekolah tidak berani merokok di tempat umum. Dulu adab dan saling menjaga adalah hal utama dalam membangun gampong, sekarang terkesan masing-masing jaga keluarga sendiri.

2. Mindset Aparatur Desa Terkesan          Pekerja Pemerintahan

Mengapa demikian? Bayangkan dulu sebelum ada dana desa atas dasar apa perangkat gampong membangun desa? Semata-mata karena ketulusan sehingga masyarakat baik pemuda sangat menghormati aparatu desa. Dulu segala permasalahan diputuskan dalam musyawarah gampong, jika ada pembangunan maka masyarakat sama-sama menyumbang agar pembangunan terlaksana.

Sekarang semenjak adanya dana desa, terkesan setiap tahunnya hanya menghabiskan anggaran sesuai dengan program yang ditentukan. Setiap tahun anggran itu habis untuk pembangunan fisik atau program-program lainnya. Tanpa memanfaatkan dana desa untuk pengembangan BUMG secara maksimal atau memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di desa untuk kemajuan dan peningkatan perekonomian masyarakat desa. Ini lumrah mengapa?

Karena tidak ada lagi musyawarah gampong, alasannya masyarakat cukup terlibat dalam mengawasi program yang sudah ditentukan. Aparatur Desa tidak terbuka dalam menyampaikan informasi terkait laporan keuangan baik dana masuk maupun dana yang telah dipergunakan (Laporan Pertanggungjawaban). Entah apa alasannya yang jelas mengapa tidak terbuka? Atau memang sudah ada peraturan pemerintah agar tidak perlu terbuka, cukup diselesaikan sesama aparatur desa dan lembaga desa.

Kesimpulannya :
1. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.
2. Jika hanya menghabiskan anggaran anak kecil pun bisa menghabiskan uang jajannya.
3. Jika masyarakat atau pemuda tidak dilibatkan dalam pembangunan desa maka sikap apatis dan generasi kedepan tidak ada lagi yang mau terlibat untuk mengurus desa.

4. Terputusnya generasi penerus seperti tokoh-tokoh pembangunan desa.

Demikian opini pribadi tentang Membangun Desa Maju Terlupakan Marwah Gampong. Semoga bermanfaat.

Terima kasih telah berkunjung ke Blog Seniman Bisu.
Salam Pendidikan…